Home > Uncategorized > Cerita Dewasa bukan Terbuka

Cerita Dewasa bukan Terbuka

Cerita Dewasa – Ibu mertua dari Malaysia
Kisah ini terjadi pada diriku dimulai 2 tahun yang lalu dan telah berlanjut sampai kini. Aku tidak minta ia terjadi karena sebelum ini aku memang hidup bahagia disamping istriku yang cantik dengan 7 orang anak. Tidak ada apa-apa kekurangan pada isteriku. Dalam kamar tidurpun isteriku masih hebat. Dia dapat melakukan apa saja asalkan kami puas ketika bersama.
Bapa mertuaku meninggal dunia pada tahun 1991, meninggalkan emak mertuaku dengan 3 orang anak yang masih menuntut di sekolah rendah. Saudara istri semuanya 14 orang, begitu banyak tetapi semuanya sudah membawa diri masing-masing, ada yang telah menikah dan ada yang berhijrah ke kota karena bekerja. Akhirnya tinggal 3 orang yang masih kecil menemani ibu mertuaku di kampung.
Sejak kematian ayahnya, istriku semakin dekat dengan ibunya dan aku bertindak membantu menghidupi adik-adik iparku bersekolah. Hampir setiap bulan, kami akan balik ke kampung yang jaraknya 24 km dari kota tempat tinggal kami untuk menjenguk-jenguk mereka. Pada setiap musim libur, biasanya aku akan menyewa sebuah van untuk membawa keluargaku dan mertuaku dan adik-adik iparku liburan ke tempat-tempat dan 2 tahun lalu kami semua 13 orang memutuskan untuk liburan secara pakage ke Pulau Tioman melalui Mersing, Johor. Kami mengambil pakage 4 hari tiga malam dan akan tinggal di pondok Kampong Salang.
Kami tiba di Pekanbaru pada jam 9.30 pagi dan terus menuju ke pangkalan jeti. Di konter tiket, aku menemukan agent liburan kami dan diberitahu bahwa kapal ke Pulau Tioman akan bertolak jam 11.00 pagi tepat. Kami diperintahkan untuk berada di dermaga selambat-lambatnya jam 10.45 pagi. Sementara menunggu waktu yang ditetapkan, kami menuju ke restoran dekat dan makan bersama-sama. Aku perasan, sejak dalam bus menuju ke Mersing, ibu mertuaku kurang berbicara dan saat kami sedang makan, dia hanya makan beberapa suap saja, itupun hanya nasi saja tanpa lauk, lalu aku menegurnya.
“Emak, dari tadi saya tengok mak diam saja. Mak tak sehat ke?” Tanyaku tanpa jawaban. Isteriku juga mencelah. “Emak, makanlah mak, mak sakit ke?” pertanyaan yang sama ditujukan kepada mertuaku. Dengan suara pelan, emak mertuaku menjawab. “Mak tak pernah naik kapal, mak rasa gerun dan takut mabuk.” Dari jawabannya, aku paham bahwa dia tidak begitu menyenangkan untuk naik kapal. Aku mencoba menenangkan perasaannya dengan memberitahunya. “Emak jangan takut, nanti emak duduk sebelah dalam perut kapal. Kalau mak duduk ditengah-tengah, mak tak nampak laut jadi rasanya macam naik bus saja.”
Isteriku mencelah. “Betul cakap Abang Arshad, mak. Mak duduk di tengah-tengah dengan saya dan budak-budak ini semua. Jangan tengok laut.” Dengan penjelasan itu, baru aku lihat emak mertuaku tersenyum dan menceduk lauk dan terus makan dengan seleranya.
Tiba waktu untuk berangkat. kami menuju ke dermaga. Anak-anak dan adik-adik iparku sudah tidak sabar-sabar menunggu untuk menumpang kapal. Bersama-sama kami, banyak wisatawan-wisatawan dari dalam dan luar negara sedang siap untuk menumpang kapal. Bila semboyan dibunyikan saja, kami semua bergegas-gegas menumpang kapal yang bentuknya seperti jet jumbo. Ketika aku mengajak emak mertuaku naik, dia minta agar naik kemudian sekali. Aku akur dan menyuruh istri dan anak-anak serta adik-adik iparku naik dahulu. Setelah kondisi lenggang aku memimpin emak mertuaku untuk naik kapal tetapi saat saja hendak melangkah, kapal mulai berayun sesuai ombak, emak menempuh karena ketakutan. Aku bertanya padanya, “Kenapa mak?, Jom kita naik.” Tetapi mak mertuaku bagai tergamam. Aku paham perasaannya dan tanpa di sadari aku menceduk punggungnya dan mengangkatnya naik ke kapal. Emak mertuaku menautkan leherku dan mukanya disembamkan ke leherku. Sesampai di atas kapal, aku mencoba menurunkannya tetapi pautannya semakin kuat bagai tidak mau melepaskan aku karena ketakutan. Aku terus membawanya ke perut kapal dan meletaknya diatas kursi. Istri dan anak-anakku tertawa geli hati melihat telatah emak mertuaku. Setelah itu baru dia melepaskan pautannya dileher ku. Ketika itu tanpa disengaja, saat aku melepaskan tangannya dari leherku, emak mertuaku menolehkan kepalanya dan bibir kami bersentuhan dan ketika itu, seperti waktu terhenti, mata kami bertemu dan aku dapat merasakan kehangatan nafasnya membelai wajahku. Aku hanya sempat berkata ‘”Ops. Maaf mak.” Dan emak mertuaku terus tertunduk malu. Aku bangun menegakkan badan dan mencuri pandang pada istri dan anak-anakku jika mereka terlihat apa yang terjadi tetapi mereka asyik mentertawakan kami berdua.
Setelah setengah jam ditengah lautan, tidak apa-apa yang terjadi. Aku bergerak keluar dari perut kapal dan berdiri dibelakang untuk menikmati pemandangan disekeliling yang terlihat dari jauh, pulau-pulau bertaburan ditengah lautan. Tiba-tiba aku mendengar namaku diteriak dan aku bergegas masuk ke dalam. Emak mertuaku sedang menunduk ke bawah dan ditangannya memegang kantong plastik. Aku bertanya kepada isteriku akan apa yang terjadi. Dia memberitahukan bahwa emak mabuk laut dan muntah. Aku mengeluarkan minyak kapak dari poketku dan mengosok-gosok belakang leher mak mertuaku. Dia muntah sampai keluar muntah hijau tetapi ketika aku menggosokkan minyak dilehernya dia mendongak dan menarik nafas dalam-dalam. Aku duduk disebelahnya sambil memijit-mijit pangkal lehernya. Emak terlihat semakin tenang. Dia melentukkan kepalanya dibahuku dengan matanya pejam. “Biarlah emak tidur bang. Kalau tidak nanti dia muntah lagi.” Selesai istriku berbicara, emak sendawa mengeluarkan angin dari perutnya. “Abang peluk mak jangan sampai dia jatuh dari tempat duduknya.” Pinta isteriku. Tanpa apa-apa perasaan aku memeluk ibu mertuaku dan menautkan pinggangnya. Tubuh kami bergesel-gesel sesuai alunan ombak yang menonggak arus bot. Aku menoleh untuk melihat istri, anak-anak dan adik iparku. Mereka semua terlelap di ayun ombak. Bila kepala emak mertuaku melurut ke dadaku, aku menolaknya kembali kebahuku.
Tiba-tiba kapal menghempas dengan kuat. Ibu mertuaku seakan terkejut dan tangan kirinya menautkan kuat ke leherku. Kepalanya semakin erat dipangkal leherku sehingga aku dapat merasakan kehangatan dengusan nafasnya. Dadanya dihimpitkan kedadaku. Aku tersipu-sipu malu tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Aku melirik istriku lagi tetapi dia telah terlelap lena dikerusinya.
Pergerakan kapal melawan ombak membuat kapal beralun-alun. Yang tidur semakin lena. Nafas emak mertuaku semakin pelan, menandakan dia juga munkin terlena. Sekali lagi bot menghempas. Tangan kiri emak mertuaku yang sedang menautkan leherku terlepas perlahan-lahan kedadaku, mengelungsur ke perut dan berhenti persis dicelah pehaku. Aku tertegun dan perlahan-lahan mengalihkan tangannya. Bila aku mengalihkannya ditaruh kembali dicelah pehaku tetapi kali ini tangannya mengosok-gosok benar-benar dibatangku. Batang aku ini pula pantang tersentuh begitu, cepatlah ia mengeras. Sambil tangannya menggosok-gosok, mukanya hampir keleherku dan hidungnya ditonyoh-tonyoh. Aku tidak tahu apakah ia sengaja atau emak mertuaku sedang bermimpi. Tiba-tiba semboyan kuat berbunyi dan kapal semakin perlahan. Semua penumpang terkejut dan melihat sekeliling. Emak mertuaku juga terjaga dan cepat-cepat mengalihkan tangannya. Aku buat-buat tak tahu apa-apa tetapi aku sadar, melalui kerlingan mataku, aku lihat, emak mertuaku asyik memandangku. Aku jerit kuat. “Dah sampai.” Dan semua anak-anakku terjaga serta istri dan adik iparku.
Ketika kapal sampai di dermaga, kami semua antri untuk turun. Di atas jeti, ada sambutan oleh panitia chalet terhadap kedatangan kami. Anak-anak semua senang dan melompat naik. Seperti mula-mula naik kapal, kini aku harus mendukung ibu mertuaku naik ke jeti. Diatas jeti terjadi kelucuan. Anak-anak, istri dan adik iparku terhuyung-huyung berjalan sambil tertawa. “Ayah, jeti ini bergerak-gerak. Saya takut.” Semua yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak melihat telatah mereka yang mabuk darat setelah 2 jam dilautan. Aku jua tak terlepas, ketika aku ikut terhuyung-huyung bersama sambil mendukung emak mertuaku.
Kami disambut dengan meriah sekali dengan senyuman dan kalungan bunga. Aku masih lagi mendukung emak mertuaku sampai ke darat. Isteri, anak-anak dan ipar-iparku terus mengikuti penyambut tamu ke kantor manajemen. Aku menuju ke sebuah kursi dan mencoba menurunkan emak mertuaku. Saat aku meletakkannya dikerusi, tangannya masih menautkan leherku. Kali ini bagai disengaja, saat dia melepaskan tangannya, hidung dan mulutnya mengesel mulutku. Aku buat tak perasan dan melepaskannya duduk. “Mak tunggu sini dulu, Arshad nak ke kaunter uruskan kunci chalet.” Jelasku kepadanya. Emak mertuaku tidak menjawab apa-apa, tetapi mata layu nya menatap mataku.
Setelah kami selesai masuk ke pondok masing-masing, aku bersama istriku dan 2 orang anak kecilku. Anak-anak yang besar berbagi sebuah chalet 3 kamar bersama seorang adik iparku. Emak mertuaku berbagi chalet 2 kamar bersama 2 orang adik iparku, kami disuguhi minuman sore di restoran dekat. Kami juga diberikan penjelasan mengenai paket liburan kami. Setelah ini kami diizinkan sendirian berjalan-jalan di pantai dan daerah-daerah terdekat. Di Kampong Salang ini ada beberapa buah kios menjual kado, gerai-gerai makan, kios-kios karaoke dan menyewa alat penyelam.
Kami menghabiskan waktu berjalan-jalan dan bermandian di pantai hingga sore. Setelah itu kami kembali ke pondok masing-masing dan siap untuk makan malam. Selama itu, emak mertuaku hanya duduk di pondok dan tidak sesuai kembaraan kami. Dia menghabiskan waktu dengan tidur dan beristirahat untuk menghilangkan rasa mabuk lautnya.
Jam 8.00 malam, kami semua bergerak ke restoran untuk hidangan makan malam. Emak mertuaku duduk disebelahku dan isteriku. Dia masih tidak banyak bicara. Kami makan bersama-sama dan setelah makan, aku lihat anak-anak dan adik iparku telah berkenalan dengan banyak teman sebaya mereka dan bermain bersama-sama di kawasan pedesaan itu. Emak mertuaku terus bergerak ke chaletnya. Katanya, dia ingin beristirahat. Aku dan isteriku berjalan-jalan di tepi pantai yang hanya diterangi oleh cahaya lampu pantai yang redup dan cahaya bulan di langit. Kami menemukan suatu sudut yang sunyi dan bercinta seperti kami pertama baru menikah dulu. Bila kami terasa ingin bersetubuh, kami kembali ke pondok dan terus masuk ke kamar. Oleh karena anak-anak masih belum balik, kami bersetubuh sepuas-puasnya didalam kamar. Aku tak tahu kenapa malam ini aku tidak bisa keluar sedangkan isteriku telah tiga kali lemas. Mungkin peristiwa siang tadi bersama emak mertuaku mengganggu perasaanku. Namun, istriku puas dan karena kepenatan terus terlelap. Ini adalah biasa, setiap kali setelah bersama, dia akan tertidur sampai pagi. Kalau bom meledak pun dia tidak akan sadar karena dia akan tetap terbangun pagi, sejak jam 5.00 pagi setiap hari.
Oleh karena angin laut begitu hangat, apalagi setelah bertarung selama satu jam aku merasa pengap dan keluar berkeliaran seorang diri. Aku duduk di kios karaoke melihat gelagat orang menyanyi dan bergembira sehingga tidak sadar waktu telah jam 1.00 pagi. Aku bergerak untuk pulang ke chalet. Setibanya di pondok, lampu semua telah dihapus. Anak-anak telah terlena tetapi mataku masih belum mengantuk. Aku duduk ditangga chalet menghadap ke chalet emak mertuaku. Aku mengenangkan peristiwa yang terjadi antara aku dan mak mertuaku siang tadi. Apakah disengaja atau tidak. Aku belum pernah bernafsu terhadap perempuan lain selain istriku yang cantik dan bertubuh mekar, tetapi hari ini aku terangsang terhadap emak mertuaku sendiri. Walau dalam usia 54 tahun, ibu mertuaku masih nampak menarik. Tidak terlalu kurus tetapi gebu. Buah dadanya terasa masih utuh dan keras ketika menghimpit dadaku. Daging pinggangnya masih kental. Aku mencoba melawan perasaanku tetapi nafsu setan masih menggodaku. Dalam benakku bertanya sendiri. Apakah dia akan menyerah dengan mudah kalau aku menggodanya. Perasaan yakin dan tidak yakin berkecamuk dalam benakku. Nak buat atau tidak. Akhirnya aku berkeputusan untuk mencoba dan aku melangkahkan kakiku ke chaletnya. Dipertengahan perjalananku aku tersentak ketika tiba-tiba emak mertuaku berdiri dalam kegelapan malam dihadapanku. “Eh! Mak, nak ke mana?” Tanyaku dengan nada terkejut. Dia menyahut. “Emak tak bisa tidur karena dah puas tidur siang tadi, Arshad nak kemana?” Dia menanyakan aku pula. “Arshad pun tak dapat lelap mata. Kan dingin ini mak, kenapa tak pakai baju dingin?” Aku melanjutkan kata-kataku.
“Taklah Arshad, angin malam ni hangat sangat. Kalau Arshad belum nak tidur, teman mak jalan-jalan kat pantai.” Pintanya. “Baiklah mak, jom.” Jawabku. Situasi ini telah melenyapkan segala yang aku ranncangkan tadi. Aku tak tahu nak buat apa bila berhadapan dengannya begini lalu aku mencoba turuti kehendakknya sebagai emak mertuaku.
Kami berjalan-jalan dengan mengikuti langkah kakinya. Kami berjalan seiringan dengan jarak selengan sambil berbicara bila perlu saja. Tanpa sadar, kami telah berjalan jauh dari penginapan kami. Tidak ada lagi lampu pantai hanya cahaya bulan menerangi jalan kami. Sesampai di daerah berbatu, kami memanjat ke atas dan berdiri menikmati angin malam. Emak mertuaku berdiri diatas batu sambil aku duduk sekitar dua meter dibelakangnya. Cahaya bulan yang memancar ketubuhnya menembus kain stiker dan baju kebaya kedahnya sehingga menampakkan bentuk tubuh yang segera merangsang syahwatku. “Dia menggoda lagi ke?” kata hatiku.
Tiba-tiba dalam kesunyian malam itu, aku mendengar suara-suara dari dalam semak-semak dibelakangku. Emak mertuaku juga tersinggung lalu bergerak menuju ke arah ku. “Suara apa tu, ada orang kat sinilah Arshad.” Emak mertuaku berkata sambil terus bergerak menuju ke arah datangnya suara tersebut. Aku menuruti dibelakangnya. Langkahnya terhenti ketika terlihat sesuatu. Aku bergerak rapat ke arahnya dan amat terkejut sekali ketika melihat bayang-bayang dua manusia sedang enak bersetubuh dihadapan kami. Seketika pula terdengar disebelah kanan dan kiri kami. Mereka semua sedang memadu asmara sambil melempiaskan nafsu masing-masing. Syahwatku terus terangsang tapi aku melawannya. Tiba-tiba emak mertuaku bersuara membisikku. “Diaorang semua tengah main, Arshad.” Aku hanya mampu menjawab, “A ‘ah”. Dan tak tahu nak buat apa. Tiba-tiba leherku dipatok dan ditarik kebawah. Emak mentuaku telah terbaring dengan tangannya menautkan leherku. “Jangan cakap apa-apa, kita buat macam diaorang.” Aku tersentak sebentar tetapi aku tahu ini lah kesempatan yang aku inginkan sejak tadi, kenapa pula aku harus menolak. Aku merebahkan tubuhku keatas tubuhnya dan terus mencium bibirnya. Lidah dan gigi kami berlaga-laga dengan rakusnya. Sungguh nikmat. Aku ingin menikmati teteknya lalu aku seluk kedalam bajunya dan meremas-remas payudara ibu mertuaku. Dia mengerang sambil tangan kanannya menyentap-yentap celanaku. Aku mengerti kehendaknya lalu bangun dan melepaskan celanaku. Tanpa celana dalam, batangku terus menerjang keluar sambil emak mertuaku menyelak kainnya keatas menampakkan kemaluannya yang masih lebat berbulu diterangi cahaya bulan. Dia mengangkat kelengkangnya dan aku terus rebah lalu menyucukkan batangku kemulut vaginanya. Tanpa lengah-lengah dia menolak punggungnya keatas dan vaginanya menelan batangku sampai ke pangkal. Kakinya menautkan punggungku bagai tidak mau melepaskan batangku. Kami terdiam sebentar dan farajnya mengemut-ngemut batangku. Nafasnya semakin kuat dan tiba-tiba saja dia mengerang dan terus longlai. Aku macam tak percaya. Belum pun aku mulai, dia sudah kekemuncak. Pranala kakinya dilepaskan dan batang aku yang masih keras terbenam dalam lubang vaginanya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dalam kegelapan malam itu, dia menarik tubuhku rapat ketubuhnya, mengucupku dan kemudian menolakku baring disebelahnya di atas rumput-rumput yang dibasahi embun bercampur perasan keringat kami berdua.
Setelah beberapa saat, masih ada kata-kata hanya sekali-kali dia mengecup-ngucup dan menjilat dadaku. Tak tahu apa hendak aku katakan. Masing-masing membisu. Jam tangan aku berbunyi dan aku dekatkan kemataku menunjukkan jam 3.00 pagi. Pukul lima pagi, pasti isteriku akan bangun. Apa harus aku katakan jika dia menemukan aku dan emaknya tidak dikatil masing-masing.
Seperti dia mengetahui apa yang sedang aku pikirkan, tiba-tiba emak mertuaku bersuara sambil menarik-narik batangku yang mencodak kelangit. “Masukkan Arshad!, Mak dah puas, Arshad mainlah emak sampai Arshad puas.” Aku tak tahu apa nak jawab. Aku hempap tubuhnya dan tusukkan batangku kedalam vaginanya. Meskipun dia telah puas, dia membantu dengan menggerakkan punggungnya kekiri, kekanan, keatas dan kebawah. Sambil menyetubuhinya, aku remas payudaranya dan sekali-sekala aku rapatkan bibirku kebibirnya. Sekali sekala aku lajukan sorongan dan adakalanya aku perlahankan dengan tujuan dapat membangkitkan nafsunya kembali meskipun harus memakan waktu lama sedikit. Harapanku tidak sia-sia, kemutan farajnya mulai terasa, lidahnya mulai minta dinyonyot dan kakinya mulai berpaut kuat tetapi apakan daya, aku sudah tidak dapat bertahan dan dengan sekali huja, batangku terbenam sampai ke pangkal dan terus menyemburkan air kasih sampai melimpah keluar bersama-sama dengan batangku yang mulai layu. “Maafkan Arshad mak, Arshad tak bisa tahan lagi.” Rayuku. Dia hanya menjawab. “Tak apalah.” Dan kami terus berpelukan dan berkucupan saat jam tanganku berbunyi lagi. Kami terus memperbaiki pakaian masing-masing dan meninggalkan tempat kami bermadu dengan insan-insan yang masih bergelimpangan menjelajahi kasih mereka.
Setibanya ditempat akomodasi kami, aku mengirim emak mertuaku sampai kebiliknya. Sebelum pergi kami sempat berkulum lidah sambil dia meremas-remas batangku dan aku menjolok-jolok jariku kedalam lubang vaginanya.
Aku terus membaringkan tubuhku disebelah istriku dan terlena sampai aku dikejutkan oleh isteriku. “Bang, bangun, sejam lagi kita nak bertolak ke tempat piknik. Semua dah siap. Apa ni, tidur jauh malam, kan lepak dah. Bangun cepat.” Mataku terasa kelat tetapi aku harus bangun. Aku bergerak menuju ke kamar air. Di depan chalet aku lihat emak mertuaku sedang rancak bergurau dengan cucu-cucunya, tidak lagi terconggok senyap sendirian seperti kemarin. Dia memandang kearahku sambil tersenyum. Dia nampak riang sekali hari ini.
Setelah mandi, aku langsung masuk ke kamar. Aku lihat isteriku sedang berbaring di atas ranjang. Bila nampak aku masuk, dia mulai berkata. “Bang, sebelum pergi, kita main sebentar.” Pintanya. Dalam hatiku berkata. “Wow!, Bisa ke ni?” . Aku harus memikirkan sesuatu untuk keupayaanku tidak signifikan setelah berhempas pulas dengan emaknya malam tadi. “Phew! Apa aku nak buat ni. Rasa macam tak sanggup.” Bisik hatiku lagi. Agar tidak mengecewakannya aku memberi alasan. “Has! Bukan tak nak, tapi kena minum redbull dulu. Itupun setelah setengah jam baru bisa. Jadi waktu tak ada sayang. Kita dah nak berangkat.” Penjelasan itu sudah cukup meyakinkan isteriku. Dia mengalah tetapi dengan kata-kata. “Tapi malam nanti untuk Has tau.” Aku hanya mampu tersenyum.
Masa untuk bertolak ke jeti untuk menumpang kapal ke tempat piknik hampir tiba. Bot sudah berada dipengkalan dan wisatawan-wisatawan sedang berbaris untuk menumpang kapal. Dari atas bukit akomodasi kami jelas nampak kapal besar yang tertambat di jeti. Aku memanggil semua anak-anak aku dan adik-adik iparku supaya bergerak ke jeti. Tidak terlihat emak mertua dan istriku. Aku memanggil isteriku dan terdengar suara sahutan dari chalet emak mertuaku. Sebentar kemudian hanya istriku saja yang keluar dan aku bertanya dimana emaknya.
“Abang! Abang jangan marah ye!” “Kenapa?” Balasku. “Emak takut dia mabuk lagi naik kapal, jadi dia tak nak ikut. Tapi takkan nak tinggalkan dia sorang di sini.” Jawab isteriku. “OK lah, Has tinggal dengan mak, biar abang bawa anak-anak.” Balas ku lagi.
“Woi! Woi!, Malam sikit,” jawab isteriku. “Has, pergi sama anak-anak, Abang temankan emak. Abang dah pernah ke sini tapi Has baru sekali ini. Jadi abang kenalah temankan emak.”
Aku tergamam sebentar dan memandang istriku dengan pandangan yang mengejutkan sambil membalas. “OK! Tapi jaga anak-anak baik-baik, jangan ada yang lemas” dan disahut oleh istriku yang telah sampai ke bawah bukit. “Jangan takut, Abang jaga emak baik-baik tau.” Dan terus menghilang menuju ke jeti.
Perasaanku bercampur-campur. Tidak suka karena tidak dapat piknik bersama anak-anak dan isteriku. Suka, munkin peristiwa semalam akan berulang.
Tiba-tiba emak mertuaku muncul di hadapan chaletnya sambil memandang aku. Aku meneriak kepadanya. “Emak, kita pergi sarapan dulu kat sana jom.” Emak mertuaku terus berjalan menuju ke arahku. Setibanya disampingku, aku mengulang kembali kata-katanya kemarin. “Jangan cakap apa-apa, kita buat macam diaorang.” Emak mertuaku tersenyum mendengarkannya lalu aku kecup sekali dibibirnya. Dia tersipu-sipu seolah malu. Aku pimpin tangannya menuju ke gerai untuk sarapan.
“Emak makan kenyang-kenyang, nanti tak cukup energi.” Aku memulai percakapan. Dia bertanya, “Energi untuk apa?” lalu aku menjawab. “Untuk main dengan saya.”
Dia hanya menyahut, “Ishhh, Arshad ni.” Kami sarapan nasi lemak dan meminta lauk kepiting goreng. Emak mertuaku begitu berselera sekali pagi ini.
“Lepas ini kita nak kemana mak?” Tanyaku. Emak menjawab, “Ke biliklah, ke mana lagi?” Aku terasa gembira sekali dengan jawabannya dan batangku menunjukkan perasaannya sendiri dan mulai mengeras.
Selesai sarapan, kami bergerak menuju ke tempat akomodasi dan aku bertanya kepada emak mertuaku dia ingin dichalet aku atau chaletnya. “Dekat kamar maklah, kalau kamar Arshad nanti, bersepah air mani dan keringat. Nanti Hasnah perasan baru padan muka.” Aku akur dan terus menuju ke chalet emak mertuaku. Setibanya didalam pondok, aku mengunci pintu dan jendela dan memasang AC. Kudekap emak mertuaku dan menjilat wajahnya. Dia hanya tegak membatu membiarkan perlakuanku. Kemudian aku lepaskan bajunya dituruti dengan kainnya. Dia tidak memakai celana dalam dan berdirilah ia dihadapanku tanpa sehelai benang. Dia mencoba menutup dadanya dengan telapak tangan tetapi aku melarangnya. Aku arahkan emak mertuaku berdiri tegak dihadapanku karena aku katakan padanya aku ingin menatap tubuh yang melahirkan istriku. Aku duduk ditepi ranjang sambil memperhatikan setiap sudut tubuhnya. Umurnya 54 tahun. Muka tidak nampak berkedut tetapi jelas sedikit kerutan diatas lehernya. Kulit diatas dadanya sedikit terlihat kasar tetapi buah dadanya sederhana dan licin keputihan. Lengannya masih gebu dan terlihat sedikit lemak ditepi pinggang dan perutnya. Di sebelah kanan bawah perutnya ada parut melintang dari kanan ke kiri, bekas operasi untuk mengikat tabung falopiannya untuk mencegah kehamilan setelah melahirkan 14 orang anak. Artinya, seberapa banyak aku semprotkan air maniku, dia tidak akan hamil. Punggungnya kecil dan melurus dari paha ke betisnya. Sungguh menghairahkan.
Setelah puas aku menatap tubuhnya, aku bangun dan menanggalkan pakaianku dan bertelanjang telanjang dihadapannya. Ketika aku melepas celana dalamku, dia memalingkan mukanya tetapi aku merapatinya lalu memenang kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke penis ku. Dia mengeraskan kepalanya untuk berpaling kembali lalu aku berkata padanya. “Mak tak nak tengok benda yang masuk dalam pepek mak semalam.” Tanpa berkata, dia memusatkan pandangannya ke penisku. Kemudian aku mendongakkannya dan mengecup bibirnya. Cara dia menyambut kucupanku seolah-olah dia ingin berubah pikiran untuk tidak meneruskannya lalu tanganku ku letakkan pada buah dadanya dan perlahan-lahan meremas-remas putingnya sehingga mulutnya terbuka dan menerima lidahku.
Kami masih berdiri sambil melayan perasaan kami. Dia mulai merangkul leherku dan sebelah tangannya membelai batangku yang memang telah mencodak keras. Nafasnya semakin kencang, mendengus-dengus dengan kuat. Tiba-tiba dia meronta melepaskan tubuhnya dari tangan saya. Aku tersentak tetapi ketika di langsung naik keatas ranjang dan terlentang mengangkang menampakkan pepeknya dengan gaya seorang perempuan yang kelaparan sek, aku terus menerkamnya. Lantas dia mencapai batangku dan menghalakannya ke lubang vaginanya. Dengan sekali henjut, seluruh batangku terbenam ke dalam bersamaan dengan suaranya yang mengerang keenakan. Saat ini kami tidak pandai lagi melakukan “foreplay” maka itu kami terus saja bersetubuh. Setiap dorong masuk batangku disambut dengan suara mengerang dari emak mertuaku. Sorong menyorongku semakin cepat, seirama dengan ayakan punggungnya. Lidahku dinyonyot sambil tanganku meremas-remas buah dadanya hingga tubuhnya mengejang dan bergetar akibat kepuasannya telah memuncak. Aku hentikan gerakanku sesaat sambil menekan batangku sedalam yang munkin. “Uhhhhggg, uhhhhgggggg.” suara parau keluar dari tengkoroknya menandakan nikmat yang amat sangat diikuti dengan tubuhnya yang terus longlai tidak bermaya. Setelah kondisi reda, aku teruskan gerakan batangku kelubang vaginanya. Dalam kedinginan AC pun tidak dapat menahan curahan keringat kami, bersatu membasahi tubuh dan kasur tempat kami bersetubuh.
Aku memperlambat gerakan batangku yang licin keluar masuk lubang nikmat yang telah dibasahi lendir yang terbit hasil nikmat persetubuhan kami. Dadanya turun naik dengan napasnya yang kencang seperti orang yang baru mengakhiri perlombaan 100 meter dipadang. Dalam usianya 54 tahun, staminanya tidak sekuat nafsunya lagi tetapi kebutuhan syahwat dan nafsunya diperlukan untuk terus menikmati kepuasan. Aku mengalah dan mencabut batangku lalu berbaring disebelahnya, menunggu sehingga kepenatannya reda. Dalam kondisi lemah laonlai itu tangannya mencapai batangku dan membelai perlahan-lahan sehingga lendir dibatangku kering dibuatnya. Emak mertuaku berpaling memandangku sambil tersenyum puas.
“Biar emak istirahat sebentar ya Arshad.” Rayunya pada aku. Aku hanya menganggukan kepalaku. Dalam pada itu, tanganku aku taruh di pepeknya dan meraba-raba lubang nikmat tersebut. Dia membuka luas kelengkangnya agar aku dapat terus mainkan jari-jariku.
Mungkin karena terlalu kelelahan, emak mertuaku terlena. Aku bangun menemukan handuk dan aku kesat sampai kering lendir yang membasahi pepeknya. Setelah kering, aku menghempapnya lalu memasukkan batangku kelubang nikmat itu dan mengerakkannya perlahan-lahan. Emak mertuaku membuka matanya dengan lesu dan membiarkan aku menyetubuhinya. Lima menit kemudian aku melepaskan benih kasih ku ke dalam lubang vaginanya. Sekali lagi pepeknya dibasahi dengan air maniku. Dia masih terlena dan setelah aku cabut batangku keluar aku juga terlena disisinya.
Bila aku tersedar, jam dinding telah menunjukkan pukul 12.30 sore dan perutku terasa lapar. Emak mertuaku masih nyenyak dengan dengkuran pelan. Aku bangun dan terus kebilik mandi, membersihkan tubuhku dan ketika aku keluar dari kamar mandi, dia masih lena. Aku duduk dikerusi di depan ranjang sambil menatap tubuhnya. Dalam hatiku bertanya sendiri, mengapa harus emak mertuaku menjadi perempuan setelah isteriku yang aku tiduri. Sampai kapan hubungan ini akan berlanjut.
Setelah sekian lama duduk memperhatikan tubuh mertuaku yang baru aku gauli dengan nikmatnya bertelanjang bulat di atas ranjang aku bangun mengejutnya. “Mak!, Mak!” Terasa janggal pula memanggilnya mak setelah apa yang kami lakukan bersama. “Mak! Bangun.”
Ketika dia membuka matanya, bagai seorang yang baru dikejutkan dari mimpinya, dia cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Dengan rambutnya yang kusut masai dan baru bangkit dari tidur barulah terlihat seperti seorang perempuan tua seusia umurnya.
Aku duduk disisinya sambil memegang bahu dan berkata, “Emak, Arshad ni. Bangun dulu dan kita pergi makan siang.” Seolah-olah baru sadar dari lamunan dia menjawab. “Oh, Arshad” lalu terus bangun dan melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan terus bergerak ke kamar air. Dengan bertuala aku mengikuti ke kamar air. Dia telah merapatkan pintu kamar air lalu aku mengetuk untuk masuk. Tidak ada jawaban seketika lalu aku menolak pintu kamar air dan masuk. Aku lihat seorang perempuan tua dan dia telah menanggalkan gigi palsunya sedang mencangkung membuang air kecil. Bersama air kencingnya, meleleh keluar lendir berwarna putih. Matanya memandang ke bawah melihat lendir putih yang banyak sekali keluar bersama air kencingnya sambil berkata. “Banyaknya air mani Arshad dalam pepek mak.”
Ketika dia mendongak kembali memandang padaku, wajahnya tanpa gigi palsunya tampak terlalu tua. Alangkah anehnya perasaanku, kondisi wajahnya membuat aku semakin terangsang kuat lalu aku membuka tualaku dan menunjukkan batang aku yang keras mencodak kedepan. Dia mencoba menyembunyikan mukanya dengan menutupinya dengan kedua tangan. Aku bergerak rapat kearahnya yang sedang mencangkung dan menariknya bangun berdiri dihadapanku. Aku kuakkan tangannya lalu menatap wajahnya tetapi dia mencoba menundukkan wajahnya menghindari tatapanku. Aku menundukkan kepalaku dan mencapai bibirnya dengan mulutku tetapi dia berpaling dan berkata. “Jangan tengok mak macam ni. Mak malu.” Tanpa banyak bicara aku mengangkatnya lalu membawanya keluar dari kamar air dan membaringkannya di atas ranjang. Aku telah terlalu terangsang dan tidak bisa mengontrol perasaanku lagi. Aku naik keatasnya dan mendepangkan kedua tangannya. Dia memalingkan mukanya menghindari pandangnku. Aku jerit kepadanya. “Pandang sini.” Emak mertuaku terkejut dengan suara ku yang meninggi tetapi di menuruti arahanku dan memandang ke arahku. Aku merapatkan mulutku ke mulutnya yang tanpa gigi. Aku belah mulutnya dengan lidahku dan melahapnya dengan rakus. Batangku masih berada diatas perutnya. Aku lepaskan tangannya, menautkan rambutnya sambil berkucupan. Air liur kami bertakung dengan banyak sehingga meleleh-leleh keluar bercampur baur.Tangannya menautkan tengkukku dan kami terus berkucupan selama beberapa menit lagi. Kemudian aku turun dari tubuhnya dan berbaring disisinya.
Aku mengiringkan tubuhku dan memeluknya. Aku lihat air mata emak mertuaku meleleh keluar dari matanya. Dia menangis dengan diam. Aku menongkat kepalaku memandangnya dan sebelah tanganku memegang buah dadanya. “Mak menangis mak, kenapa?” Tanya ku.
“Arshad, kita dah lakukan dosa besar, Mak rasa berdosa pada Hasnah. Mak kesian pada dia.” Timbul rasa kekesalan pada dirinya dan dia melanjutkan, “Mak rasa kita lupakan apa yang telah kita lakukan dan kembali seperti biasa.” Aku hanya terdiam tanpa kata-kata. Aku mencoba mencium bibirnya tapi dia mengelak dan mengetapkan bibirnya dan terus berkata. “Meskipun mak akan rasa kekosongan tetapi biarlah ia berlalu dengan sendirinya. Maafkan mak, Arshad.” Situasi begini membuat aku panik lantas aku terus bangun mengenakan pakaianku dan pergi keluar dari chaletnya membiarkan emak mertuaku sendirian. Kemudian aku langsung menuju ke restoran untuk mengisi perutku yang lapar sambil melayani pikiranku yang berserabut dengan seribu persoalan.
Selesai makan, aku duduk di jeti, mencoba menenangkan pikiranku. Setelah dia mengajar aku betapa enaknya hubungan sumbang ini, tiba-tiba dalam sekejap dia mencoba mengakhirinya. Aku masih menginginkan untuk meratah puas-puas tubuhnya. Bagaimana akan aku hadapinya setelah ini? Aku bertekad untuk berhadapan dengannya sebelum istri dan anak-anak aku pulang sekitar jam 6.30 sore ini. Jam aku menunjukkan pukul 2.30 sore dan emak mertuaku tidak terlihat dimana-mana. Dia pasti masih berada dichaletnya. Aku terus menuju ke restoran untuk membelikan makanan untuk dibawa kepadanya.
Aku melangkahkan kakiku menuju ke chaketnya dan sesampai di pintu pondok, aku mengetuk dan emak mertuaku membuka pintu. Belum sempat aku mengatakan sesuatu dia mulai bersuara. “Arshad, mak nak cakap sikit dengan Arshad.” Lalu dia duduk di atas kursi. Aku mengulurkan makanan yang aku belikan seraya berkata. “Nah mak. Arshad belikan mak nasi bungkus. Mak makanlah dulu. Setelah ini kita bisa berdiskusi.”
“Takpe lah, parkir dulu atas meja ni. Nanti mak makan. Kita harus konsultasi dulu.” Balasnya. Aku duduk di kerussi berhadapan dengannya lalu memusatkan pandanganku kearahnya. Emak mertuaku mencoba menghindari pandanganku. Dia tidak memandang tepat padaku. Aku jadi sedikit gemetar untuk menghadapi suasana ini tetapi aku kuatkan semangat dan memulai bicara. “Mak, kalau mak nak bincang tentang apa yang kita dah lakukan, Arshad bertekad, apapun yang akan terjadi, Arshad tetap mau main dengan emak.” Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, dia menyela, “Arshad, apa yang kita lakukan ini berdosa. Mak tak tahu kenapa mak buat macam ini, dengan menantu mak pulak tu. Terus terang mak katakan, mak memang bernafsu kuat. Setelah bapak meninggal, mak masih bisa bertahan lagi tetapi sejak Pak Ayub mengusik-usik mak hari itu, tiba-tiba mak rasa mak memerlukannya lagi. Nafsu mak kembali lagi meskipun mak dah tua ni. ”
“Mak, nafsu akan pergi setelah kita mati. Selagi kita hidup, selagi itu kita akan memiliki nafsu. Semalam mak dah ajar saya curang dengan istri saya dan saya dah mulai senang main dengan mak tapi tiba-tiba mak nak cerita dewasa pasal dosa pulak. Saya nak mak faham benar-benar, saya tetap nak teruskan apa yang kita dah mulai. “Suaraku mulai meninggi. “Kita ikutkan saja hati kita, orang lain tak perlu tahu. Bila saya ingin, mak harus beri, kalau tidak saya akan lakukan hal yang mak tak ingin tahu. Fahamkan itu dan jangan banyak cakap lagi.” Aku mulai menghardiknya. Dia tampak terkejut dengan lakuku dan menunjukkan kegelisahannya. “Sekarang makan dulu, lalu ini kita main.” Aku melanjutkan dengan batang aku mulai mengeras.
“Mak belum lapar lagi, nanti karang mak makanlah.” Balasnya sayu. Aku terus memerintahnya. “Kalau gitu, naik atas ranjang dan bukak baju mak sekarang juga. Saya dah tak tahan nak main.” Aku sendiri terkejut dengan kata-kata yang aku keluarkan tetapi nafsu telah mengontrol diriku. Aku harus menyetubuhinya lagi.
Mak mertuaku bangun dan berlalu masuk ke kamar, melepas pakaiannya satu persatu dan berbaring meniarap di atas ranjang. Aku dengan masih berpakaian membaringkan diri disebelahnya. Aku mengusap rambutnya dan merapatkan bibirku kepipinya lalu menciumnya. Serentak dengan itu, dia mengiringkan tubuhnya menghadap aku sambil tersenyum.
“Mak, maafkan Arshad karena kasar dengan mak tadi.” Aku mulai berkata padanya. “Kalau mak nak lupakan bahwa kita telah buat hal ini, Arshad akan bangun dan tinggalkan kamar ini?.” Belum sempat aku menghabiskan ayatku, emak mertuaku menyambut cakapku. “Dah lah Arshad, kita dah terlanjur jauh. Emak perlukan seorang pria dalam hidup mak. Kalau Arshad sudi, Arshad bisa jadi pria tu.”
Aku mencoba mendapatkan kepastian darinya. “Maksud mak, kita akan lanjutkan begini.” Aku melanjutkan. Dia hanya mengangguk mengiyakan. Aku terasa lega karena kini aku tidak berlawan dengan perasaanku lagi dan tidak bertepuk sebelah tangan. Sesaat aku ketepikan perasaanku terhadap isteriku, anaknya.
Aku menarik emak mertuaku naik ke atas tubuhku dan kami berkucupan sambil tanganku meraba-raba belakang tubuhnya. Tangan aku singgah dipunggungnya yang berisi dan aku remas-remas perlahan-lahan. “Arshad, sebelum Hasnah dan anak-anak balik?” Aku paham maksudnya dan membatasi kata-katanya dengan menarik rapat mulutnya dan menolak lidahku ke dalam. Dia menyambut dengan menyonyot-nyonyot lidahku. Sambil memeluknya, aku mengolekkan badan dan menghempap tubuhnya. Aku melanjutkan meraba ke payudaranya dan meremas-remas perlahan-lahan. Nafas emak mertuaku semakin kuat dan kencang. Dia telah menunjukkan tanda siap untuk disetubuhi.
Aku bangun perlahan-lahan dan melepaskan kecupan kami lalu membuka baju dan celanaku. Dia terlentang dikatil sambil tangannya meraba-raba bibir vaginanya yang terlihat berkilat-kilat diselaputi lendirnya sendiri. Perlahan-lahan aku menghempap tubuhnya lagi dan menemukan mulut kami. Kami berkucupan dan buah dadanya terhempap oleh dadaku. Aku mengesek-gesekkan tubuh kami dengan mengoyang-goyang perlahan-lahan. Tangan kananku aku susurkan ke vaginanya dan memain-mainkan jariku di situ. Sekali-sekala aku jolokkan jariku ke dalam lubang nikmatnya. Seiring dengan itu, dia mengoyang-goyangkan punggungnya.
“Arshad!, Masukkan.” Emak mertuaku merayu. Dengan itu, aku bangun dan memegang kedua kakinya dan mengangkangkannya. Perlahan-lahan aku letakkan kepala penisku ke mulut vaginanya dan menolak sedikit demi sedikit hingga terbenam seluruhnya. Ketika kepala penisku menyentuh pangkal rahimnya dia mengerang keenakan. Aku rebahkan tubuhku menghempap tubuhnya sambil menyorong dan menarik batangku keluar, masuk perlahan-lahan. Matanya pejam menahan kenikmatan dari pergerakanku. Aku merapat ke telinganya dan membisik. “Sedap tak mak.” Dia hanya menganggukkan kepala dan aku melanjutkan lagi. “Kia buat selalu.” Dia membalas dengan suara terputus-putus menahan kenikmatan. “Arshad harus selalu jenguk-jenguk mak. Kita bisa main selalu.” Kapan aku menghentikan pergerakkanku, dia akan mengayak-ayak punggungnya seperti tak sabar untuk menikmati puncak kenikmatan. Aku teruskan gerakan sorong-tarik perlahan-lahan dan sekali-sekala aku henyak-henyak sekuat-kuat. Setiap kali dia menerima henyakkanku, dia akan mengerang.
Tiba-tiba dia mengayak punggungnya dengan laju sambil merayu. “Arshad, mak nak sampai, mak nak sampai, mak nak sampai, laju??? Laju lagi? .. Ooo? Arghhhh? .. Ahhh?. Ahhh? Ahhhh.” Serentak dengan itu aku melajukan pergerakanku dan?. “Uuuhhhh?. Sampai sayang.” Darinya dan kami sama-sama memuncratkan kasih. Tubuhnya gemetar kenikmatan menerima air kasih ku ke dalam vaginanya. Mulutnya mencari-cari mulutku dan mengucupku dengan rakusnya. Kami sampai bersamaan dengan peluh membasahi tubuh kami.
Selesai pertarungan kami, kami sama-sama terbaring terlentang menghadap langit untuk menenangkan nafas kami kembali, masing-masing diam tanpa berkata-kata sesaat. Sesekali aku menoleh pada emak mertuaku, Dia tersenyum lemah bila mata kami bertentang. Dia terlihat gembira. Begitu juga aku.
Setelah nafas kami kembali tenang, kami berpelukkan dan berkucupan. Aku memberanikan diri menyatakan aku cinta padanya dan mau sering bersamanya saat ada kesempatan dan dia membalas dengan mengatakan dia juga telah jatuh cinta pada aku dan terasa sangat sayang padaku, bukan sebagai menantunya tetapi sebagai kekasihnya. Dia berjanji akan selalu menyerahkan tubuhnya untuk aku kerjakan selagi ada kesempatan yang mengizinkan. Dia membutuhkan pria dan pria itu adalah aku.
Sebelum kami membersihkan diri masing-masing untuk menyambut kepulangan istri dan anak-anakku, kami sempat bertarung sekali lagi tetapi secara sederhana dengan penuh kasih sayang. Air maniku telah kehabisan tetapi cukup untuk kami merasa puas dan nikmat.
Petang itu kami duduk di jeti, menunggu rombongan piknik pulang dan lagak kami seperti mertua dan menantu. Meskipun kami ingin duduk berpelukkan seperti pasangan lain yang duduk di jeti bersama-sama kami, kami terpaksa menahan perasaan tersebut.
“Arshad, jangan sampai seseorang sadar hubungan kita, terutama Hasnah dan anak-anak mak yang lain. Nanti kecuh jadinya.” Emak mertuaku memulai percakapan. Aku menyela. “Kita sama-sama jaga perasaan kita depan dia orang, meskipun saya ingin peluk mak selalu.” “Mak juga rasa macam itu. Kalau bisa mak nak Arshad peluk mak selalu.” Balasnya.
“Mak tak pernah bercinta dan tak pernah tahu akan rasa cinta itu bagaimana agaknya tetapi hari ini mak rasakan bahwa perasaan cinta pada Arshad begitu membara sekali. Dulu mak kawin dengan bapak pada kehendak orang tua. Sehingga mak melahirkan 14 orang anak, perasaan cinta itu tidak pernah ada dalam hidup mak. Mak cuma rasa bahwa hubungan mak dengan bapak adalah karena tanggung jawab mak sebagai seorang istri kepada suami saja. “Emak mertuaku mulai bercerita dan aku hanya mendengarkan saja. Dia melanjutkan, “Hari ini, mak dapat rasakan cinta,? Cinta mak pada Arshad. Kalaulah kita tidak ada hubungan muhrim, mak hendak kawin dengan Arshad dan hidup bersama sebagai istri Arshad supaya mak dapat menikmati sepenuhnya rasa cinta yang tak pernah mak alami selama ini , dan mak nak nikmatinya sampai ke akhir hayat. ”
“Bagi saya mak, saya pernah bercinta, cinta pada Hasnah, istri saya dan anak mak. Mak pun tahu bagaimana saya lalui zaman itu dua puluh dua tahun lalu. Saya sendiri yang bilang mak dan bapak bahwa saya cintakan anak mak dan mau menikahinya. Sehingga sekarang pun kami tetap macam dulu. Kami masih mencintai satu sama lain. “Aku menjelaskan pada ibu mertuaku. “Tapi pada hari ini, saya telah jatuh cinta pada maknya. Dulu saya jelaskan pada mak bagaimana saya cintakan anak mak tetapi pada hari ini saya masih tetap cintakan Hasnah. Pada hari ini juga saya dapat rasakan cinta saya pada mak. Cinta untuk kali kedua ini sangat berbeda dan hebat sekali. Di sini, emak di depan saya. Saya tidak dapat menyentuh mak dikhalayak ramai, perasaan rindu saya pada mak dah mulai terasa apa lagi setelah ini kita akan berjauhan sementara dan akan bertemu sekali-sekala jika ada kesempatan. ” jelasku lagi.
Kami sempat mengobrol panjang, menjelaskan perasaan masing-masing dan merencanakan masa depan kami. Kapan dan bagaimana kami dapat bertemu dan melanjutkan hubungan kami supaya tidak dihidu oleh siapapun. Untuk hari-hari berikutnya liburan ini kami berjanji tidak akan melakukan apa-apa supaya jauh dari kecurigaan sampai Hasnah, anak-anak dan adik iparku pulang.
Pada malam itu, kami semua makan bersama. Aku teringat janjiku pada isteriku untuk memuaskannya pada malam ini. Aku ragu-ragu jika aku akan mengecewakannya pada malam nanti karena seluruh tenagaku telahku kerahkan untuk emaknya siang tadi. Maka itu, setelah makan aku minta izin pada isteriku untuk berkeliaran sendirian pada malam itu dan berjanji akan pulang awal untuk melayani nafsunya pula. Seawalnya tadi, nafsunya memang sudah berkobar-kobar tetapi dia mengizinkan aku setelah aku membuat janji padanya.
Tujuan aku adalah untuk membeli minuman berenergi “Red Bull” dan menongakknya supaya tenagaku kembali untuk memperlakukan istriku pun. Nasib aku kurang baik, tidak ada toko yang menjualnya. Aku mulai khawatir dan terus menyusur di gerai-gerai kampung Salang. Aku berhenti untuk minum di sebuah kios minuman untuk membasahkan tekakku saat nasib menyebelahiku. Gerai itu ada menjual kopi Tongkat Ali. Aku minum sampai dua gelas sampai badan aku berkeringat kepanasan meskipun cuaca malam itu, dingin sekali. Setelah menghabiskan dua gelas, aku pun berjalan pulang ke chalet dan kebilik untuk bertarung kali kedua pula, kini dengan istriku.
Tampaknya Kopi Tongkat Ali tidak mengecewakan aku atau mungkin ketika aku menyetubuhi isteriku, aku membayangkan emaknya. Yang penting, istriku puas, seperti biasa, sebelum aku keluar, dia sampai kepuncak nikmat sebanyak dua kali dan terus terlena kepenatan. Malam itu aku tidur nyenyak dan hanya sadar pada jam 6.00 pagi esoknya. Aku berjalan-jalan menghirup udara pagi di tepi pantai. Saat aku turun dari chalet aku menoleh ke chalet emak mertuaku. Dia tidak terlihat. Mungkin belum bangun tidur karena terlalu penat.
Jam 7.30 pagi semua berkumpul untuk sarapan. Aku dan emak mertuaku saling pandang sesekali. Aku rindu untuk memeluknya tetapi apakan daya. Emak mertuaku juga berperasaan sama. Dia menceritakan pada aku setelah kami dapat bersama, setelah pulang dari liburan.
Jadwal hari itu, kami semua di bawa untuk membuat “Jungle Tracking” untuk piknik di Air terjun dan melihat satwa liar di Pulau itu. Kali ini, aku dan emak mertuaku ikut bersama. Sering istriku suruh aku membantu memimpin emaknya. Meskipun kami memiliki kesempatan tetapi kami dapat mengontrol diri menunaikan janji kami. Aku berlagak sebagai menantu yang baik dan bertanggung jawab dan emak mertuaku menjalankan perannya sebagai seorang tua yang tidak berdaya berjalan jauh. Sesekali aku mendukungnya. Isteriku terlihat bangga karena aku nampak sayang dengan emaknya dan menjaganya dengan baik. Hari itu berjalan dengan tenang. Keesokan harinya kami menghabiskan waktu berjalan-jalan di Kampung Salang karena setelah makan siang kami akan pulang ke tanah besar di Mersing, Bot kami bertolak pulang pada jam 2.00 petang. Pada kali ini, emak mertuaku tidak mabuk lagi. Dia bisa naik dan turun sendiri dari kapal. Kami sampai ke daratan jam 4.00 sore setelah dua jam perjalanan. Jam 4.30 kami langsung berangkat dengan bus wisata untuk pulang ke kota.
Selanjutnya, perhubunganku dengan emak mertuaku berjalan dengan baik sehingga kehari ini tanpa dapat dihidu oleh siapa. Kini hubungan kami telah berjalan selama dua tahun. Sebagai seorang kontraktor, masa aku tidak terkungkung. Aku menyerahkan kerja-kerja pada pembantuku. Urusan kantor ditangani oleh istriku dan adik-adik iparku. Kini kunjunganku ke rumah mertuaku semakin sering tanpa ditemani oleh istriku karena terlalu sibuk dengan urusan kantor yang sengaja aku sibukkannya.
Rumah emak mertuaku telah aku besarkan. Sebuah kamar khusus untuk keluargaku saat kami berkunjung telah aku bina, yang sebenarnya adalah surga bagi aku dan emak mertuaku untuk melanjutkan hubungan kami memuaskan nafsu masing-masing layaknya sebagai suami istri. Kamar tersebut hanya aku yang memegang kuncinya dan adik-adik ipar yang sangat hormat padaku tidak sesekali mau mengambil kisah apa yang terjadi dalam kamar tersebut. Mereka juga tidak pernah tahu apakah aku ada dalam kamar tersebut atau tidak karena ia terletak di lantai dua. Di lantai dua tersebut yang tidak pernah dinaiki oleh adik-adik iparku karena mereka masing-masing aku binakan kamar sendiri lengkap dengan perabotan dan kubelikan set hiburan dalam kamar mereka. Tingkat atas hanya memiliki kamar keluargaku dan emak mertuaku. Sebab itu ketika emak mertuaku naik ke atas, tidak siapa peduli. Dia akan dipanggil dari bawah saja bila diperlukan dan jika dia keluar dari kamar akupun tidak siapa akan menyadarinya. Maka itu kami bebas melakukan apa saja ketika kami bersama. Biasanya saat kami bersetubuh, aku akan membuka HiFi dengan kuat agar segala suara saat kami sedang bersetubuh tidak akan terdengar.
Pada istriku, selalu aku katakan bahwa aku kena kerja luar dekat dengan kampung mertuaku dan aku akan tidur atau beristirahat di rumah emaknya. Sangat senang sekali karena aku sering berkunjung dan menjenguk ibunya. Pernah suatu ketika ketika aku sedang menyetubuhi ibu mertuaku, telepon bimbitku berbunyi. Dengan batangku masih terbenam dalam lubang nikmat ibu mertuaku aku menjawab telepon bimbitku. Melalui telepon, isteriku menanyakan aku berada dimana. Aku nyatakan aku sedang beristirahat di rumah emaknya. Untuk meyakinkan dirinya dia minta untuk berbicara dengan emaknya. Aku katakan bahwa ibunya sedang berada di dapur tetapi dia tetap ingin berbicara dengan emaknya lalu aku berpura-pura menjerit memanggil emaknya sedangkan emaknya sedang aku hempap dengan batangku masih tertanam. Aku senyapkan selang satu menit dan kemudian aku serahkan ke ibu mertuaku yang sedang aku hempap. Emak mertuaku mengambil telepon tersebut dan memulai percakapan dengan anaknya sambil aku meneruskan henjutan batangku. Aku teruskan menyorong tarik batangku, aku menghisap buah dadanya sedang dia terus mengobrol dengan anaknya. Aku melihat wajah emak mertuaku menahan kenikmatan dari persetubuhan kami.
“Has! Mak tak dapat berbicara panjang ni. Nanti hangus lauk pada dapur, nantilah kita ngobrol lagi.” Emak mertuaku mencoba mengakhiri percakapan telepon dengan istriku dan langsung menyerahkan ponsel kepadaku. Aku memastikan aku telah menutupnya dan setelah itu, emak mertuaku mengerang dengan kuat karena terlalu nikmat dengan asakkanku. Kami melanjutkan persetubuhan kami sampai kekemuncak.
Setiap kali aku berkunjung, akan berakhir dengan sama-sama lemas melakukan persetubuhan berulang-ulang. Kami merasa sungguh bahagia sekali. Dalam pada itu, kulkas di bilikku selalu dipenuhi dengan air tin Tongkat Ali untukku dan air tin Manjakani untuk emak mertuaku. Ketika hendak memulai persetubuhan, kami akan sama-sama menonggak air tersebut dan bertahanlah persetubuhan kami sampai dua jam. Dengan Tongkat Ali, batangku keras vertikal dan dengan Manjakani, pepek emak mertuaku selalu sempit seperti anak dara.
Sekian Cerita Dewasa

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: